Oleh: Heru B
Pilpres baru saja usai, denga kacamata dunia yang fana, berbagai teori kefanaan sah-sah saja menganalisanya dan melahirkan kesimpulan kemenangan SBY bisa dianggap sebagai keberhasilan SBY mengalahkan pesaing-pesaingnya. Namun tidak demikian halnya bila kita mencoba melihat dari kacamata iman, bahwa sesungguhnya kalah dan menang adalah sebuah cobaan atau ujian dari Allah. dan setiap cobaan memiliki 2 jalan kemudahan, yaitu kemudahan menuju surga Allah atau sebaliknya kemudahan menuju Neraka Nya. Jalan mana yang di pilih, kembali kepada manusia yang menerima cobaan tersebut, karena pilihan itu adalah haknya mutlak untuk memilih tergantung dari keimanannya.Kemenangan pada dasarnya adalah salah satu cobaan dalam katagori kenikmatan yang Allah berikan kepada manusia. dengan kemangan itu Allah memberikan sedikit nikmat atau karunianya yang menimbulkan rasa senang, gembira dan suka cita untuk satu tujuan; adakah hambanya tersebut mensyukuri nikmat atau karunia itu? Ingatlah kisah Nabi Sulaiman AS saat melihat Singgasana Ratu Bulqis bisa dibawa dari kerajaan Saba’ (sekitar Yaman) ke padanya (disekitar Palestina Sekarang) dalam sekejap mata, ia mengucapkan;
Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. (An Naml; 40)
Jadi jelaslah tersurat kenikmatan adalah cobaan dari Allah SWT . Begitupun dengan kemenangan, adalah cobaan kenikmatan yang seharusnya membuat orang yang mendapatkannya bersyukur pada Allah SWT. Dalam hal bersyukur ini Allah SWT memberikan ganjaran yang tidak tanggung-tanggung, seperti dalam FirmanNYa;
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Ibrahim; 7).
Tatkala seorang muslim mendapatkan kemenangan dan dan ia mengucapkan hamdalah, menggiatkan dan memperbayak ibadahnya, baik itu ibadah yang sifatnya hablumminallah maupun ibadah yang sifatnya hablumminannas maka Allah SWT akan menambahkan nikmat padanya. Namun tidaklah berhenti sampai di situ, nikmat yang diperolehnya tersebut membentangkan dua jalan bagi penerimanya yaitu kesurga atau neraka.
Begitupun dengan kemenangan yang diperoleh SBY dalam pilpres, sebenarnya merupakan saran kemudahan bagi dirinya untuk menuju surganya Allah SWT bila ia mensyukuri nikmat kemenanga tersebut sebagai anugrah Allah SWT, lalu menjalankan semua atau berusaha semaksimal mungkin mewujudkan amanah yang diembannya sebagaimana sumpahnya dengan kalimat ”Demi Allah’ dan alquran di atas kepalanya saat pelantikannya. Maupun janji yang terlontar semasa kampanyenya.
Sebaliknya, kemenangan yang diperoleh SBY itu bisa menjadi jalan yang memudahkannya menuju neraka Allah SWT. bila ia hanya sekedar mensyukuri nikmta tersebut sebagai pemberian Allah SWT, namun tidak mendayagunkan nikmat tersebut sebagai mana ajaran Islam terhadap seorang pemimpin, dengan kata lain mengingkari segala janji dan mengkhianati amanah yang diemban olehnya secara syar’i.
Selanjutnya, bagi mereka yang kalah hendaklah mereka juga bersabar dan berprasangka baikpada Allah SWT. Bisa jadi di balik kekalahannya Allah SWT sedang menyelamatkan dirinya dari perbuatan-perbuatan yang akan membawa dirinya ke neraka.
Memang kekalahan bukanlah sesuatu yang menyenangkan, karenanya kekalahan adalah salah satu bentuk cobaaan dari katagori musibah. Sifat dasar manusia tidak menyukai musibah atau hal-hal yang tidak menyenangkan dirinya. Namun tidaklah demikian bagi orang yang beriman, yang sangat yakin akan kebenaran Firman Allah SWT; ” ... Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui”.(Al-Baqarah: 216).
Dengan keyakinan akan firman Allah tersebut, maka seyogyanya orang muslim menerima kekalahan dengan lapang dada. Karena ia yakin kekalahan itu akan lebih memudahkannya untuk masuk ke Surganya Allah SWT. Misalkan dengan kekalahan maka otomatis ia terlepas dari tanggung jawab amanah dan janji yang pernah ia ucapkan di masa kampanyenya. Bisa jadi janji tersebut sebenarnya sulit di penuhi olehnya, maka Allah mengalahkannya.
Hal yang menarik adalah dari penrnyataan JK, bahwa jika ia kalah ia akan pulang kampung dan mengurus masjid. Seandainya JK menyadari janji tersebut, tercatat oleh malaikat pencatat disebelah kiri kanannya, maka Allah memudahkannya jalan ke surga dengan kekalahan yang ia terima, agar ia mensibukan diri mengurus masjid dan jamaah di hari tuanya. Adakah yang lebih mulia dari memakmurkan rumah Allah dan kemasalahatan jamaahnya serta umat Islam pada umumnya. Seandainya JK merealisasikan janjinya itu, maka ia termasuk golongan orang yang sebenar-benarnya menang dalam urusan akhirat. Bukankah negeri akhirat sangat jauh lebih baik dari dunia?
Seandainya kaum muslimin menyakini firman-firman Allah dalam Al’Quran, maka bisa jadi di setiap pemilihan presiden, yang kalah tidak akan mempersoalkan yang menang dan yang menang tidak akan melecehkan yang kalah. Karena mereka yakin pemimpin adalah seorang yang membawa amanah, dan amanah itu sangat berat..
Ingatlah saat Abu Bakar Ash Shiddiq di minta untuk menjadi khlaifah pertama, ia menolak dan memberikannka kepada dua calon lainnya yaitu Umar Bin Khottab dan Abu Ubaidah Amir bin Djarrah.
Namun Umar dan Abu Ubaidah menolaknya, dengan mengatakan "tidak mungkin bisa, selama Abu Bakar Ash Shiddiq masih berada di tengah-tengah kami". Maka Abu Bakar menerimanya, dan mulai saat itu berkuranglah berat tubuh Abu Bakar karena mensedikitkan waktu tidur untuk memikirkan yang dipimpinannya tidak hanya soal kemakmurannya tetapi juga keimannannya.
Dewasa ini sebaliknya, para muslim memperebutkan amanah (untuk jadi pemimpin) dengan berbagai cara. atas nama demokrasi. Padahal Rasululloh SAW bersabda:
Dari Abu Dzar Ra Ia berkata,"Saya berkata kepada Rasulullah, ya Rasulullah mengapa engkau tidak memberi jabatan kepadaku? Maka beliau menepuk bahuku dan bersabda,' Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau ini adalah orang yang lemah, sedang jabatan itu suatu amanat, yang kelak pada hari kiamat merupakan suatu kehinaan dan penyesalan. Kecuali orang yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan kewajiban (jabatan) dengan sebaik-baiknya (HR Muslim)
Dan dari Abu Hurairah RA , Rasulullah saw bersabda,"
" sesungguhnya kalian berambisi merebut jabatan, dan nanti pada hari kiamat jabatan itu akan menjadi penyesalan." (HR Bukhori)
Jika amanah telah diperebutkan, bisa jadi ini sebagai tanda-tanda akhir zaman.
- Wallahu a’lam bishshowab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar